Breaking News

Sabtu, 17 Maret 2018

Sel Hewan Lebih Adaptif berasal Sel Tumbuhan

Bumi telah mulai terbentuk sejak jutaan tahun silam, dan hingga ketika ini, terdapat jutaan organisme yg telah hidup. Untuk bertahan hidup, mereka melakukan adaptasi. Adaptasi biasa terjadi lantaran adanya seleksi alam, dimana organisme dipaksa buat menyesuaikan diri menggunakan lingkungan yg terus berubah. Adaptasi dibagi menjadi tiga macam, yaitu adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.

Adaptasi morfologi ialah suatu cara bagi organisme buat bertahan hidup menggunakan membarui bentuk bagian tubuhnya supaya dapat menyesuaikan menggunakan kondisi lingkungan. Pada adaptasi morfologi, perubahan bentuknya dapat dipandang secara fisik.


Adaptasi fisiologi ialah cara organisme buat bertahan hidup menggunakan menyesuaikan fungsi tubuh bagian dalam terhadap lingkungannya. Adaptasi ini melibatkan fungsi organ tubuh organisme dan zat tertentu dalam proses metabolisme.

Adaptasi tingkah laku ialah cara organisme buat bertahan hidup menggunakan cara menyesuaikan tingkah lakunya menggunakan lingkungan sekitar. Biasanya, adaptasi ini ditandai menggunakan bagaimana tindakan suatu organisme dalam melindungi diri dari pemangsanya.

Jika dibandingkan, bagaimana adaptasi antara jaringan binatang menggunakan jaringan tumbuhan?
Jaringan tumbuhan terbagi menjadi 2, yaitu jaringan embrional dan jaringan dewasa. Jaringan embrional sering dianggap sebagai jaringan meristem. Jaringan meristem merupakan sekelompok sel tumbuhan yg bersifat meristematik (aktif membelah)

Berdasarkan asalnya, jaringan meristem dibagi menjadi 2, yaitu meristem pokok dan meristem sekunder. Meristem pokok berasal dari sel inisial, sehingga dianggap promeristem, sedangkan meristem sekunder berasal dari frase dewasa, yaitu kambium. Arah tumbuh meristem pokok ialah keatas, yg membuat tumbuhan tadi mengalami pertambahan tinggi, sedangkan meristem sekunder tumbuh kesamping, sehingga tumbuhan itu mempunyai batang yg bertambah besar.

Berdasarkan posisinya, meristem dibagi menjadi tiga, yaitu apikal, interkuler, dan lateral. Apikal berada diujung batang dan akar, interkuler berada diantara ruas-ruas batang, sehingga hanya terdapat kepada tumbuhan beruas, sedangkan lateral berada disamping akar dan batang (buat pembesaran akar dan batang).

Jaringan dewasa terbagi menjadi jaringan pelindung, dasar, vaskuler, dan gabus. Jaringan pelindung berfungsi buat melindungi bagian dalam tumbuhan. Jaringan dasar terbagi menjadi 2, yaitu parenkim (kawasan penyimpanan) dan penyokong yg terbagi lagi menjadi kolenkim dan sklerenkim. Pada jaringan vaskuler, terdapat xilem yg mengangkut air dan mineral dari akar ke daun dan floem yg mengangkut output fotosintesis dari daun ke seluruh tubuh. Jaringan gabus mempunyai kegunaan melindungi jaringan lain supaya tidak kehilangan air, dan terbagi menjadi felem dan feloderm.

Seperti halnya kepada tumbuhan, jaringan binatang pun tersusun atas aneka macam macam sel. Pada binatang mamalia (binatang taraf tinggi), terdapat empat tipe jaringan dasar, yaitu jaringan epitel, jaringan pengikat, jaringan otot, dan jaringan syaraf. Jaringan epitel tersusun dari sel yg terikat satu sama lain, melapisi permukaan tubuh, sebagai pembatas antar organ dan rongga dalam tubuh. Jaringan pengikat berfungsi sebagai penyangga dan menyatukan jaringan menggunakan organ-organ lain. Jaringan otot terdiri dari serabut-serabut otot (myofibril) yg tersusun dari sel-sel otot. Fungsi jaringan otot ini ialah sebagai indera mobilitas aktif, dimana otot mempunyai kemampuan berkontraksi dan berelaksasi sehingga dapat menggerakan tubuh. Yang terakhir, terdapat jaringan syaraf yg tersusun sang sel-sel syaraf yg dianggap neuron. Bentuknya bercabang-cabang, menghubungkan antar jaringan. Fungsinya yaitu buat mendapat, mengolah, dan merespon setiap rangsang yg diterima sang sel tadi.

Mengenai pernyataan dimana sel binatang lebih mampu menyesuaikan diri daripada sel tumbuhan, aku kurang sepakat. Saya lebih sepakat bahwa sel tumbuhan bersifat lebih adaptif. Bukti yg dapat aku sampaikan antara lain ialah keberadaan atau keberadaan tumbuhan purba lebih mudah dijumpai kepada masa sekarang ini, misalnya misalnya tumbuhan paku dan tumbuhan lumut. Bukti bahwa tumbuhan purba lebih mudah ditemui daripada binatang purba menunjukan bahwa sel kepada tumbuhan ialah sel yg bertenaga. Sel terbagi menjadi sel yg bertenaga dan sel yg terspesialisasi. Sebuah sel dapat dikatakan sebagai sel yg bertenaga waktu beliau bersifat adaptif, atau menggunakan ungkap lain sel tadi mampu menyesuaikan diri (menyesuaikan diri) menggunakan lingkungan menggunakan mudah. Pada sel yg bertenaga, terjadi proses diferensiasi sel, dimana terjadi perubahan morfologi dan fisiologi menuju spesialisasi yg terjadi didalam sel, jaringan, maupun organ selama proses perkembangan dari taraf meristematik hingga taraf dewasa. Sel yg terspesialisasi ialah sel yg mengalami perubahan yg mengikuti fungsi, yg dibebankan kepada sel dalam tubuh tumbuhan. Berdasarkan kepada pernyataan tadi, dapat diketahui bahwa tumbuhan mempunyai sel yg lebih bertenaga, dimana bentuk tumbuhan tidak poly berubah, lantaran selnya mampu menyesuaikan diri menggunakan baik, menyesuaikan diri menggunakan lingkungannya yg baru. Berbeda menggunakan tumbuhan, binatang mengalami poly proses evolusi.

Evolusi ialah proses perubahan secara berangsur-angsur (bertingkat) dimana sesuatu bermetamorfosis bentuk lain (yg umumnya) menjadi lebih kompleks/ rumit ataupun bermetamorfosis bentuk yg lebih baik. (Wikipedia, 2017)

Karena binatang mengalami poly proses evolusi, maka muncullah aneka macam macam bentuk binatang, yg bentuknya lebih bervariasi daripada tumbuhan, lantaran sel nya tidak mampu menyesuaikan diri menggunakan baik sehingga sel -- sel tadi terspesialisasimenjadi sel -- sel menggunakan fungsi yg tidak sinkron.

Tanaman yg paling tinggi mempunyai struktur modular, dan bodi tumbuhan didesain secara plastis dari jumlah daun yg bervariasi ditambah tunas dan akar cabang. Plastisitas memungkinkan fenotip buat secara akurat menempati ruang lokal, membarui fenotipenya ketika tumbuh, mencari masakan asal daya, secara kompetitif menyingkirkan tetangga dan bangunan, sinkron batasan genetik / lingkungan, ceruk sendiri. Konsep ceruk ini melibatkan sedikit pemahaman wacana pensinyalan 2 arah kompetitif dan kooperatif antara individu dan lingkungan yg krusial dalam struktur komunitas.(Muller-Landau 2003; Uriarte dan Reeve 2003; Silvertown 2004; Donohue 2005; Kelly et al 2008; Liebold 2008). Badri & Vivanco (2009)

Berdasarkan pernyataan tadi, bahwa struktur kepada tumbuhan yg berkonsep "ceruk" mendukung tumbuhan buat menyesuaikan diri menggunakan lingkungannya, dimana suatu tumbuhan wajib dapat bersifat kompetitif dan kooperatif. Tumbuhan akan bersifat kompetitif menggunakan tumbuhan lainnya dalam mencari asal mata air, namun beliau juga akan bersifat kooperatif menggunakan cara bekerja sama menggunakan makhluk hidup lain buat membantu keberlangsungan hidupnya. Hal ini juga menjadi sala satu faktor mengapa tumbuhan dapat menggunakan mudah bertahan hidup di lingkungan sekitarnya.

Bagi tumbuhan liar, predasi bukanlah hal yg dapat terelakkan. Pada beberapa tumbuhan, terdapat jaringan meristem yg tidak aktif, dimana proses regenerasi dapat berkurang drastis dan dapat mengakibatkan kepada pengurangan "kemampuan" buat bertahan hidup. Karena itulah tumbuhan tidak menempatkan fungsi krusial kepada satu atau 2 jaringan spesifik misalnya halnya yg dilakukan binatang menggunakan hati atau ginjal. Spesialisasi semacam itu dapat membuat individu (tumbuhan) rentan terhadap predasi, dan juga dapat membuat individu tadi rentan rusak ataupun tidak dapat bertahan hidup waktu lingkungannya mengalami perubahan yg ekstrem.

Berdasarkan perbedaan kemampuan buat menyintesis asam amino antara sel binatang dan sel tumbuhan, sel tumbuhan umumnya dapat menyintesis lebih poly asam amino dibanding sel binatang. Dari 20 asam amino yg diharapkan buat menghasilkan protein, sel binatang hanya mampu menyintesis secara alami sebesar 10, sisanya dianggap sebagai asam amino esensial yg wajib diperoleh dari masakan spesifik. Sedangkan kepada sel tumbuhan, sel tumbuhan mampu menyintesis seluruh asam amino tadi. Dengan demikian, sel tumbuhan lebih bertenaga daripada sel binatang

Berdasarkan struktur sel, sel tumbuhan mempunyai "perisai" yg dapat beliau pakai buat melindungi diri dari suatu hal yg mengancam keberadaannya. Perisai tadi ialah dinding sel. Pada tumbuhan berkayu, misalnya pohon mangga maupun pohon jambu, dapat eksklusif terasa bahwa lapisan epidermis mereka lebih bertenaga dan keras dibanding lapisan kulit insan dan binatang. Dengan adanya dinding sel kepada sel tumbuhan, sel tumbuhan akan menjadi lebih bertenaga dan tahan akan perubahan ekstrem yg terjadi di lingkungannya. Berbeda menggunakan sel tumbuhan yg mempunyai dinding sel, sel binatang tidak mempunyai dinding sel, sehingga waktu terjadi perubahan iklim yg cukup drastis, sel binatang akan kesulitan buat menahan dampaknya, sehingga tidak mudah buat menyesuaikan diri. Pada sel tumbuhan, waktu terjadi perubahan iklim yg drastis, dinding sel akan menahan perubahan tadi, dan sel yg terdapat didalamnya akan mempunyai waktu buat menyesuaikan diri sehingga tumbuhan tadi tidak mudah mangkat.

Ketika keadaan diluar sel berubah, reaksi yg diberikan sang sel binatang tidak sinkron menggunakan reaksi yg diberikan sang sel tumbuhan. Ketika kondisi diluar sel terjadi pemekatan (Hipertonik), maka sel binatang akan mengalami krenasi, yaitu pengerutan lantaran terjadi kehilangan air melalui osmosis. Pada kondisi yg sama, sel tumbuhan akan mengalami plasmolisis

Plasmolisis ialah suatu proses lepasnya protoplasma dari dinding sel yg diakibatkan munculnya sebagian air dari vakuola (Salisbury and Ross, 1992)

 Ketika kondisi diluar sel bermetamorfosis encer (hipotonik), sel binatang akan mengalami hemolisis. Hemolisis ialah kerusakan atau penghancuran suatu sel lantaran adanya gangguan integritas membran sel, sehingga sel tadi pecah. Sedangkan kepada sel tumbuhan, dalam kondisi yg sama, akan terjadi turgid, yaitu tekanan misalnya pembengkakan yg dihasilkan sang tekanan turgor yg dihasilkan sang vakuola buat mempertahankan bentuknya. Berbeda menggunakan sel binatang yg akan rusak waktu mengalami hipotonik, sel tumbuhan tidak akan rusak. Alasan mengapa sel tumbuhan tidak pecah atau rusak waktu mengalami hipotonik ialah lantaran adanya dinding sel yg membantu sel buat mengatur keseimbangan airnya. Dinding sel yg bersifat tidak kenyal hanya akan mekar hingga batas tertentu, kemudian menyampaikan tekanan pulangkepada sel yg melawan pengambilan air lebih lanjut. Karena itulah tumbuhan lebih mudah menyesuaikan diri menggunakan lingkungan jikalau dibandingkan menggunakan sel binatang.

Selain itu, kepada sel binatang, terdapat organel yg dianggap lisosom. Lisosom tadi mampu melakukan autolisis, dimana autolisis merupakan proses penghancuran sel yg dilakukan sang enzim dari dalam suatu sel itu sendiri, dan berujung kepada kematian sel. Tujuan sel binatang melakukan itu ialah buat menghancurkan organel jikalau terjadi suatu kerusakan. Kemampuan tadi akan mengakibatkan sel mudah mangkat, dan tentu saja sulit menyesuaikan diri. Sel tumbuhan tidak mempunyai kemampuan tadi.

Dengan demikian, terbukti bahwa sel tumbuhan lebih mudah menyesuaikan diri daripada sel binatang, dapat dibuktikan sang keberadaan tumbuhan purba yg lebih mudah ditemukan. Selain itu, tumbuhan juga bersifat kompetitif sekaligus kooperatif, dan hal itu menguntungkan tumbuhan dalam menyesuaikan diri menggunakan lingkungannya, dan tumbuhan tidak menempatkan fungsi krusial kepada jaringan spesifik. Kemampuan sel tumbuhan buat menyintesis asam amino dan struktur sel tumbuhan juga sangat berpengaruh terhadap adaptivitas sel tumbuhan itu sendiri.

Terima kasih telah membaca, semoga esai ini dapat membantu para pembaca buat lebih mengembangkan pengetahuannya.

Daftar Pustaka :

Wikipedia. 2017. Evolusi. https://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi_(istilah)

Khanza Aulia. 2017. Adaptasi Makhuk Hidup https://www.juraganles.com/2017/01/adaptasi-morfologi-fisiologi-tingkah-laku-bareng-misalnya.html

Yasri. 2015. Macam-Macam Jaringan Tumbuhan dan Fungsinya https://genggaminternet.com/macam-macam-jaringan-tumbuhan-dan-kegunaannya/

Ahmad Fathoni. 2016. Jaringan Hewan. https://www.zonasiswa.com/2015/03/jaringan-binatang-epitel-konektif-otot.html

2015. Pengertian, Fungsi Sel Saraf dan Bagiannyahttps://kakakpintar.com/pengertian-fungsi-sel-saraf-dan-bagian-bagiannya/

Trewavas. 2009. What is Plants Behaviour?https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1365-3040.2009.01929.x/full

Regina Bailey. 2017. Animal vs Plant Cell. https://www.thoughtco.com/animal-cells-vs-plant-cells-373375

Visto Kartika. 2017. Siapa yg Lebih Kuat, Sel Tumbuhan atau Sel Hewan? https://www.kompasiana.com/vistokartika/599fdd94c05a1c5eb46de382/siapa-yg-lebih-bertenaga-sel-tumbuhan-atau-sel-binatang

Ahmad Yasin. 2012. Hemolisis. https://www.scribd.com/doc/220425009/Hemolisis-Adalah-Kerusakan-Atau-Penghancuran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Uangmaya.com