Breaking News

Minggu, 18 Maret 2018

Sel Hewan vs Sel Tumbuhan, Manakah yang Bertahan Lebih Lama

Banyak orang niscaya sudah sering mendengar istilah 'sel'. Namun, nir semuanya mengerti arti dari istilah tersebut, benar bukan? Kebanyakan mungkin hanya berpikir bahwa sel itu adalah suatu bagian dari tubuh yang terletak di dalam organ-organ. Secara terperinci, sel merupakan tingkatan struktural kehidupan terendah yang memiliki sifat kehidupan, seperti reproduksi, pertumbuhan, serta perkembangan, pemanfaatan energi, respons terhadap lingkukngan sekitar, pengaturan tubuh, serta adaptasi terhadap lingkungan di sekitarnya. Setiap makhluk hidup yang terdapat di global ini niscaya tersusun atas perpaduan sel-sel.


Mari kita lihat perjalanan sejarah sel sejenak. Sel pertama kali ditemukan oleh Robert Hooke, seorang ilmuwan Inggris, pada tahun 1665. Hooke mengamati sel gabus dari dinding sel tumbuhan yang mati menggunakan mikroskop sederhana. Selain itu, Hooke juga merupakan orang yang memberi nama 'sel', yang berasal dari Bahasa Latin 'cellula' yang berarti kamar kecil.  Penemuan kedua dilakukan oleh Antonie Van Leeuwenhoek. Pada tahun 1674, dia menjadi orang pertama yang melakukan penelitian mengenai sel hidup yang diambil dari alga Spirogyra. Leeuwenhoek juga merupakan orang yang membuatkan teknologi mikroskop. Ada poly sekali ilmuwan-ilmuwan yang mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai sel, salah satu misalnya yaitu Jean Baptiste de Lamarck. Beliau menyatakan suatu pendapat bahwa setiap badan hidup merupakan perpaduan dari sel-sel. Pernyataan ini dinyatakan pada sekiat tahun 1809. Berbagai penelitian tetap berjalan hingga sekarang. Ada juga pernyataan mengenai bagian terpenting dari sel hidup adalah cairan yang terdapat di dalamnya. Pernyataan ini disampaikan oleh Felix Dujardin (1835).

Terdapat suatu pernyataan krusial dari hasil penelitian Theodore Schwann (1839) serta Matthias Schleiden (1838). Pada tahun 1838, pakar nabati Jerman, Matthias Jakob Schleiden menyatakan bahwa seluruh tumbuhan terdiri atas sel serta bahwa seluruh aspek fungsi tubuh tumbuhan pada dasarnya merupakan manifestasi aktivitas sel. Kemudian di tahun 1839, Theodore Schwann yang merupakan seorang pakar anatomi fauna, setelah berdiskusi dengan Schleiden menyadari bahwa dia pernah mengamati nukleus sel fauna sebagaimana Schleiden mengamatinya pada tumbuhan. Ia lalu menyatakan bahwa seluruh bagian tubuh fauna juga tersusun atas sel.  Mereka berdua memiliki kiprah krusial dalam perkembangan global mikrobiologi. Mereka beropini bahwa sel merupakan unit dasar kehidupan serta setiap makhluk tersusun dari sel. Dari hasil penelitian mereka berdua juga, timbul suatu teori yang membagi sel menjadi tiga bagian, yaitu unit struktural, unit fungsional, serta unit hereditas. Sel sebagai unit struktural berarti sel merupakan komponen dasar penyusun setiap tubuh makhluk hidup. Sel sebagai unit fungsional maksudnya adalah seluruh fungsi-fungsi kehidupan, seperti sintesis protein, reproduksi, sebagai bagian yang merespon, pemanfaatan energi, dsb, berlangsung di dalam sel. Kemudian yang terakhir adalah sel sebagai unit hereditas artinya sel menurunkan sifat genetik ke generasi selanjutnya. Penurunan ini dilakukan oleh kromoson yang terdapat pada sel. Sel memiliki struktur yang dinamakan nucleus (inti sel). Nukleus ini memiliki kiprah sebagai pembawa materi genetik yang memiliki sifat yang akan diwariskan ke generasi berikutnya.

Seorang ilmuwan bernama Johannes Purkinjie memperkenalkan istilah protoplasma (cairan di dalam sel). Contoh ilmuwan yang lain ialah Rudolf Ludwig Karl Virchow. Pengamatan yang dia lakukan adalah pengamatan pembelahan sel. Dari pengamatan itulah, dia mampu memberi pernyataan bahwa sel berasal dari sel sebelumnya (omnis cellula e cellula). Pernyataan tersebut sebenarnya ditemukan oleh Franois-Vincent Raspail akan akan tetapi dipopulerkan oleh Virchow. Ini adalah penolakan terhadap konsep generasi spontan (spontaneous generation), yang menyatakan organisme berasal dari benda mati. Adapula ilmuwan lain seperti Robert Brown. Ia menemukan nukleus pada sel tanaman anggrek. Nukleus memiliki arti krusial lantaran mengatur segala aktivitas sel. Brown merupakan salah satu orang yang pertama mengenali disparitas fundamental antara tumbuhan gymnospermae serta angiospermae, serta melakukan studi awal palinologi. Dia juga menaruh poly sumbangan terhadap taksonomi tumbuhan, termasuk penggolongan sejumlah familia tumbuhan yang masih diterima saat ini, serta poly marga serta spesies tumbuhan Australia, hasil penjelajahannya bersama Matthew Flinders.

Makhluk hidup terdapat yang terdiri dari sel tunggal, terdapat juga yang terdiri dari poly sel. Sebutan lain untuk organisme yang terdiri dari sel tunggal adalah organisme uniseluler. Organisme uniselular mampu berupa koloni maupun hidup secara individual. Contoh dari organisme seluler adalah bakteri, amoeba, serta fungi (seperti ragi). Selain organisme uniseluler, makhluk hidup yang terdiri dari poly sel juga memiliki sebutan lain yaitu organisme multiseluler. Organisme multiseluler biasanya mampu dilihat dengan mata telanjang (kecuali untuk beberapa organisme yang spesifik). Contoh organisme multiselular adalah fauna serta tumbuhan. Organisme uniseluler dipercaya lebih primitif daripada organisme multiseluler lantaran kompleksitas yang lebih rendah. Organisme bersel tunggal terdiri dari satu sel tunggal, akan tetapi tubuh multiseluler terdiri dari poly sel yang mengkhususkan diri dalam fungsi tertentu bersama-sama. Sel pada umumnya memiliki penyusun yang terdiri dari dinding sel (terdapat di sel tumbuhan saja), membran sel, sitoplasma, badan golgi, vakuola (terdiri dari vakuola kontraktif serta vakuola non-kontraktif), retikulum endoplasma (terdiri dari retikulum endoplasma kasar serta retikulum endoplasma halus), ribosom (terdiri dari ribosom bebas serta ribosom terikat), mitokondria, lisosom (terdapat di sel fauna saja), sentriol (terdapat di sel fauna saja), plastid (terdapat di sel tumbuhan saja serta terdiri menjadi kromosom, kloroplas, serta leukoplas), peroksisom, glioksisom (terdapat di sel tumbuhan saja), sitoskeleton (terdiri dari mikrotubulus, filamen intermediat, mikrofilamen), nukleus, serta nukleolus.

Sel memiliki 2 tipe, yaitu sel eukariotik serta sel prokariotik. Perbedaan keduanya terletak pada inti sel, epilog sel, letak serta struktur ribosom, serta DNA nya. Sel prokariotik nir memiliki membran inti, memiliki epilog sel dimana epilog sel eubacteria terdiri atas peptidoglilkan serta archaebacterial dari pseudopeptidoglikan. Letak ribosom terletak bebas di sitoplasma serta strukturnya masih semu. Sedangkan DNA yang dimiliki berbentuk sirkuler. Untuk sel eukariotik, sel tersebut memiliki membran inti. Penutup sel terdiri atas selulosa, kitin, dsb. Ribosom terdapat yang letaknya bebas di sitoplasma, akan akan tetapi adapula yang terikat di RE kasar. Struktur yang dimiliki berupa RNA serta DNA. Yang terakhir, bentuk DNA yang terdapat adalah linier serta sirkuler. Berdasarkan hasil penelitian oleh Theodore Schwann serta Mathias Schleiden, ditemukan bahwa sel dibedakan menjadi sel fauna serta sel tumbuhan. Sel fauna nir memiliki dinding sel serta plastid, serta glioksisom. Namun, memiliki sentriol, lisosom, serta ukuran vakuola yang kecil. Berbentuk nir tetap. Sel tumbuhan memiliki dinding sel, plastida, glioksisom, serta memiliki vakuola berukuran besar, akan tetapi nir memiliki sentriol maupun lisosom. Berbentuk tetap.

Pada umumnya, sel memiliki diameter antara 1-100 mikrometer (m) serta memiliki volume antara 1-1.000 . Sel fauna berdiameter sekitar 20 m, sel tumbuhan berdiameter sekitar 40 m, sel amoeba berdiameter sekitar 90-800 m, serta sel alga yang besar berdiameter 50.000 m (50 mm). Tentu saja ukuran sel yang amat sangat kecil susah untuk dilihat dengan mata telanjang. Maka, dipergunakan suatu alat yang mampu membantu pengamatan terhadap sel, yaitu mikroskop. Mikroskop yang sering dipergunakan adalah mikroskop cahaya. Kata mikroskop berasal dari bahasa Latin, yaitu "mikro" yang berarti kecil serta ungkap "scopein" yang berarti melihat. Benda kecil dilihat dengan cara memperbesar ukuran bayangan benda tersebut hingga berkali-kali lipat. Bayangan benda mampu dibesarkan 40 kali, 100 kali, 400 kali, bahkan 1000 kali, serta perbesaran yang mampu dijangkau semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi. Ilmu yang menilik objek-objek berukuran sangat kecil dengan menggunakan mikroskop dikenal sebagai Mikroskopi. Mikroskop pertama kali diciptakan oleh Zacharias Janssen serta dikembangkan oleh Anthony Van Leeuwenhoek. Penemuan ini sangat membantu peneliti serta ilmuwan untuk mengamati objek mikroskopis. Mikroskop pertama kali ditemukan pada tahun 1590 oleh Zacharias Janssen dengan donasi Hans Janssen. Melalui penemuan mikroskop ini, setiap orang mampu melihat benda-benda yang berukuran sangat kecil dengan perbesaran mencapai 150 kali.  Penemuan mikroskop oleh Zacharias Janssen tersebut memancing ilmuwan lain untuk meneliti lebih lagi. Galileo Galilei, ilmuwan dari Italia, juga menghasilkan alat yang sama pada tahun 1610. Mikroskop yang dibuatnya ini menggunakan lensa optik sehingga dikenal sebagai sebagai mikroskop optik. Galileo sendiri memberi nama alat temuannya Mikroskop Galileo.

Seiring dengan kemajuan ilmu teknologi, pada tahun 1665, seorang ilmuwan dari Inggris bernama Robert Hooke merancang mikroskop majemuk serta memiliki sumber cahaya sendiri. Mikroskop rancangan Robert Hooke memiliki kemampuan perbesaran benda hingga 30 kali. Melalui mikroskop buatannya sendiri, Robert Hooke mampu menemukan sel pada kayu gabus yang diamatinya. Pada tahun 1668 sampai tahun 1677, seorang ilmuwan Belanda bernama Antonie Van Leeuwenhoek membuatkan mikroskop lensa tunggal dengan kekuatan perbesaran objek hingga 270 kali lebih besar dari ukuran sebenarnya. Antonie Van Leeuwenhoek berhasil mengamati sel darah merah, ragi, bakteri serta protozoa melalui mikroskop rancangannya. Berkat hasil temuannya, tanpa disadari Van Leeuwenhoek menjadi orang pertama yang berhasil melihat bakteri. 

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan di bidang teknologi, mikroskop pun semakin dikembangkan dengan kemampuan perbesaran yang didapatkan bertambah besar. Sehingga pada tahun 1933, seorang ilmuwan ekamatra dari Jeman, Ernst Ruska, berhasil menghasilkan mikroskop elektron yang pertama. Berbeda dengan mikroskop cahaya, mikroskop elektron nir menggunakan cahaya, akan tetapi menggunakan elektron untuk melihat struktur benda-benda kecil. Mikroskop ini dikenal sebagai dengan Mikroskop TEM (Transmision Electron Mircosope). Perbesaran objek mikroskop TEM mampu mencapai 500.000 Mirkoskop TEM mampu menghasilkan gambar dengan cara mengirimkan elektron pada irisan spesimen yang sangat tipis. Sehingga mikroskop mampu dipergunakan untuk melihat bagian dalam struktur sel. Mikroskop modern yang saat ini paling sederhana serta sering dipergunakan adalah mikroskop cahaya. Mikroskop cahaya adalah salah satu jenis mikroskop yang menggunakan sumber cahaya sebagai media untuk mengirimkan gambar ke mata. Cahaya yang biasa dipergunakan biasanya berasal dari cahaya lampu yang kemudian dipantulkan melalui suatu cermin datar atau cermin cekung yang terletak di bawah kondensor. Berkat adanya berbagai penemuan mikroskop yang terus berkembang ini, maka para ilmuwan menjadi sangat terbantu dalam menemukan poly penemuan baru yang tentunya juga berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan di global.

Mengenai inti topik artikel yang akan saya bahas, yaitu suatu pernyataan mengenai 'Sel fauna memiliki ketahanan (waktu hidup) lebih lama dibandingkan sel tumbuhan. Sejauh manakah kamu setuju dengan pernyataan tersebut?', apakah Anda pernah mendengar kabar mengenai fauna yang hidup sangat lama, bahkan sampai 5000 tahun? Bagaimana dengan tumbuhan? Manakah yang sering Anda dengar?

Dari apa yang sebenarnya terjadi, berita yang terdapat, justru yang mampu hidup lebih lama adalah sel tumbuhan. Mari kita lihat dari fenomena di global ini. Terdapat pohon "The Sisters" atau juga dikenal dengan sebutan "The Sisters Olive Trees of Noah", berada di Bechaelah, Batroun District, Libanon, yang merupakan sekumpulan 16 pohon Zaitun. Umurnya diperkirakan mencapai lima.000 - 6.000 tahun. Selain 16 pohon Zaitun tersebut, terdapat juga sebuah pohon dengan nama Jomon Sugi yang terletak di Yakushima, Jepang serta menjadi pohon cryptomeria tertua sekaligus terbesar di pulau tersebut. Diperkirakan Pohon Jomon Sugi telah mencapai umur lebih dari 5000 tahun. Pohon tersebut telah ditetapkan oleh sebagai warisan budaya atau UNESCO World Heritage Site. Pohon tua lainnya adalah Olive Tree of Vouves ini terletak di pulau Kreta, Yunani. Pohon tersebut merupakan pohon tertua dari 7 pohon zaitun di Mediteranian yang menurut para peneliti berumur lebih dari 3000 tahun serta tetap hidup sampai sekarang. Pohon yang lain adalah Chestnut Tree of One Hundred Horses, terletak di Gunung Etna di Sicily. Pohon kastanye yang tertua sekaligus terbesar di global. Pohon diperkirakan berumur antara 2000 sampai 4000 tahun. Kemudian terdapat Pohon General Sherman yang merupakan pohon raksasa yang masih berdiri serta tumbuh sampai sekarang. Diperkirakan berumur sekitar 2.500 tahun. General Sherman berada di Sequoia National Park, California. Selain beberapa pohon yang telah saya sebutkan di atas, tentu saja masih terdapat poly pohon tua lainnya yang berumur ribuan tahun yang masih hidup sampai sekarang.

Coba saja kita bandingkan dengan fauna-fauna yang hidup lama di global ini. Hewan darat paling tua yang diketahui adalah Jonathan, kura-kura Aldabra raksasa berumur 183 tahun yang hidup di St. Helena, sebuah pulau di lepas pantai Afrika Barat. Kemudian terdapat seorang kurator burung Museum Burke di Seattle, John Klicka, yang berkata bahwa burung liar tertua yang diketahui ialah Wisdom, burung Albatros lysan berusia 65 tahun. Ada juga seekor kerang quahog bernama Ming, yang hidup selama 507 tahun. Kakapo, spesies bayan nokturnal endemik yang terancam punah dari Selandia Baru, hidup hingga 60 tahun. Ikan Koi juga terkenal dengan umurnya yang panjang. Namun, ikan koi tertua yang pernah ditemukan adalah ikan koi dari Jepang dengan nama Hanako yang telah mati pada usia 226 tahun. Dari seluruh umur fauna-fauna tertua di atas, nir terdapat yang mencapai angka ribuan. Maksimal hanya mencapai 500 atau 600. Mengapa hal tersebut mampu terjadi? Apakah terdapat penyebab khusus? Atau hanya sebuah kebetulan?

Pertama, mari kita lihat dari struktur sel masing-masing tumbuhan serta juga fauna. Sel tumbuhan memiliki dinding sel sedangkan sel fauna nir. Hal tersebut tentu mempengaruhi perlindungan yang dimiliki oleh masing-masing sel. Perlindungan sel tumbuhan lebih bertenaga lantaran nir hanya memiliki membran sel yang melindungi isi sel, akan akan tetapi juga memiliki dinding sel yang melindungi seluruh bagian-bagian sel serta menjaga bentuknya. Dinding sel hanya terdapat pada sel tumbuhan disebabkan lantaran adanya alga serta prokariota yang membuatkan dinding sel, sedangkan sel fauna nir memiliki alga maupun prokariota. Mengapa dinding sel berperan begitu krusial dalam menentukan apakah sel tumbuhan mampu bertahan lebih lama dibanding sel fauna? Sederhana saja. Lingkungan sel sangat berperan dalam menentukan kelangsungan hidup suatu organisme, lantaran eksistensi fungsi serta struktur tergantung pada lingkungan sel. Ekspresi gen, yang merupakan pengatur berbagai aktivitas metabolisme baik pertumbuhan maupun reproduksi, tergantung pada lingkungan. Maka, secara otomatis, dibutuhkan pelindung yang bertenaga untuk mencegah sel dari segala macam bahaya yang terdapat di lingkungan di sekitarnya. Keadaan lingkungan yang ekstrim juga menambah alasan kenapa sel tumbuhan mampu hidup lebih lama. Lingkungan yang ekstrim nir sama bagi seluruh organisme. Sebuah lingkungan yang sungguh sinkron bagi sebuah organisme mungkin sangat berbahaya bagi organisme lainnya. Maka diharapkan perlindungan yang lebih lagi, yaitu dengan adanya membran inti serta dinding sel pada bagian sel tumbuhan.

Tumbuhan memiliki umur lebih lama dibandingkan fauna. Hal ini dikarenakan sel induk yang dimiliki tumbuhan sangat berperan aktif ketika terjadi kerusakan sel lain. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan dari VIB and Ghent University, sel induk dalam akar tumbuhan memegang kunci krusial akan kelangsungan hidup tumbuhan tersebut. Selain memegang kunci krusial, sel induk itu juga berperan untuk melahirkan copy-an DNA ketika tumbuhan mengalami kerusakan sel. Dengan pembentukan copy-an DNA tersebut, maka tumbuhan akan mampu terus tumbuh serta berkembang menggunakan sel baru itu. Sayangnya, perang sel induk dalam tumbuhan serta fauna berbeda, walaupun memiliki kiprah yang sama-sama krusial namun sel induk pada tumbuhan memiliki tingkat aktivitas serta sensitifitasnya lebih baik. Pada tahun 1838 timbul teori yang terkait dengan suatu hipotesis yang menyatakan  bahwa seharusnya setiap sel hidup yang menyusun makhluk multiseluler juga mampu melakukan kegiatan hidup serta mampu tumbuh (berkembang biak) serta berkembang seperti halnya makhluk uniseluler. Teori yang dimaksud adalah teori totipotensi sel (total genetic potencial cell). Ilmuwan yang mengemukakannya adalah Schleiden serta Schwann. Teori ini menyatakan bahwa setiap sel tumbuhan yang hidup memiliki info genetik serta perangkat fisiologis yang lengkap untuk tumbuh serta menjelma tanaman yang utuh bila kondisinya sinkron.

Terdapat suatu teori yang dikenal sebagai Pola Penuaan. Selama masa pertumbuhan, dengan bertambahnya umur suatu organisme, akan diikuti juga dengan proses penurunan kondisi yang mengarah kepada kematian organ atau organisme. Bagian akhir dari proses perkembangan, dari dewasa sampai hilangnya fungsi dikenal sebagai senesen atau penuaan. Sel-sel yang telah terbagi pada dasarnya memiliki masa hidup terbatas, sehingga penuaan akan dialami oleh seluruh sel pada saat yang berbeda-beda. Selama proses penuaan, pada tingkat sel terjadi penyusutan struktur serta rusaknya membran seluler. Tipe-tipe penuaan (senescence) yang dijumpai dalam tumbuhan mampu dikelompokkan menjadi 4, yaitu Senescence yang meliputi keseluruhan tubuh tanaman (overall senescence), Senescence yang meliputi hanya bagian tanaman di atas tanah (top senescence), Senescence yang meliputi hanya daun--daunnya (Deciduous senescence), Senescence yang meliputi hanya daun-daun yang terdapat di bagian bawah suatu tanaman (Progessive Senescence). Menurut teori di atas, semakin tua suatu sel, maka kondisi serta fungsi sel akan menurun atau rusak. Tentu saja sel mampu berusaha untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Namun, hal itu akan susah dilakukan serta justru melelahkan, terkhusus untuk sel fauna lantaran membutuhkan lebih poly energi untuk keperluan lain. Hewan adalah organisme yang mampu berkecimpung aktif. Kemampuan tersebut tentunya memerlukan energi yang poly juga. Coba kembali kita bandingkan dengan tumbuhan yang nir mampu berkecimpung serta jikalau mampu berkecimpung, hanya mampu melakukan gerakan pasif. Energi yang dikeluarkan mampu difokuskan untuk pemugaran diri sehingga nir terjadi kerusakan-kerusakan yang fatal yang mampu menyebabkan kematian organisme. Selain itu, tumbuhan nir terjebak dalam proses untuk terus memperbaiki sel-sel yang rusak, melainkan fokus untuk tetap tumbuh sebagai organisme yang normal. Hal tersebut ditunjukkan dengan tumbuhan yang memproduksi makanannya sendiri. 

Berbeda dengan fauna yang wajib mencari makanan dari organisme lain, termasuk tumbuhan. Ada yang akan terjadi lain dari melemahnya fungsi suatu sel, yaitu pada saat mutasi yang kadang terjadi. Mutasi adalah perubahan pada materi genetik suatu makhluk yang terjadi secara datang-datang, secara acak, serta merupakan dasar bagi sumber variasi organisme hidup yang bersifat terwariskan (heritable). Mutasi juga mampu diartikan sebagai perubahan struktural atau komposisi genom suatu jasad yang mampu terjadi lantaran faktor luar (mutagen) atau lantaran kesalahan replikasi. Mutasi mampu terjadi pada DNA atau kromosom. Terdapat suatu penemuan baru dari tim ilmuwan Ghent University Belgia, yang menemukan bahwa sel induk antara fauna serta tumbuhan berbeda. Perbedaan itu terlihat dari induk sel kedua organisme yang memiliki potensi untuk bertumbuh menjadi suatu jaringan baru. Bedanya, pada fauna, sel induk mampu menjaga tubuh muda yang sehat. Namun jikalau sel induk berhenti untuk menjaga tubuh tersebut, maka fauna akan menua serta akan semakin mendekati kematian. Hal ini juga terjadi pada manusia serta sering dikenal sebagai dengan penuaan. Tanaman juga memiliki sel induk yang fokus pada penempatan pertumbuhan baru. Tumbuhan memiliki sel yang memiliki sebutan sel punca. Sel tersebut tumbuh dengan sangat lambat serta niscaya mengalami pembelahan yang merubah sel baru menjadi sel induk sejati. Sedangkan sel yang lain akan menjadi sel diam yang tetap sebagai cadangan. Sel diam ini sangat krusial lantaran memiliki kemampuan dalam proses pencegahan penuaan pada tumbuhan.

Dari berbagai berita-berita serta juga opini yang telah saya jabarkan di atas, serta sinkron penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh poly ilmuwan, saya menyatakan bahwa saya nir setuju dengan pernyataan bahwa sel fauna memiliki ketahanan yang lebih lama dibandingkan dengan sel tumbuhan lantaran poly bukti yang menunjukkan sel tumbuhan mampu hidup jauh lebih lama dibandingkan dengan sel tumbuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Uangmaya.com