Breaking News

Sabtu, 24 Maret 2018

Teror Tumbuhan Pembunuh pada Pulau Timor

Senjata biologi yang selama ini dibayangan ialah serangan beserta dengan virus atau bakteri yang patogen. Sejata pemusnah masal ini lebih identik beserta mikoorganisme atau mahluk tak kasat mata kemudian disebarkan. Tanpa disadari, senjata biologi nir selalu berkiblat pada virus atau bakteri, akan tetapi dapat beserta tumbuhan. Bukan tumbuhan beracun dalam hal ini, akan tetapi tumbuhan yang ada disekitar kita dapat menjadi senjata pemusnah masal. Saat di Pulau Timor saya melihat banyak tumbuhan yang adaptif di lahan yang kering, tandus akan tetapi masih tetap hijau & fertile. Bagaimana apabila tumbuhan ini di tanah yang fertile?


Suatu waktu teman saya mendapatkan tugas kunjungan ke negeri kanguru. Paspornya mengambarkan alamat beserta provinsi Nusa Tenggara Timor. Sesaat sebelum betul-betul sah menginjakan benua Australi, ia mendapatkan serentetan pertanyaan keliru satunya "kapan terakhir kali ke kebun yang bersemak belukar" akunya. Rupanya Australi mempunyai ketakutan akan serangan mahluk biologis berdasarkan Tropis & keliru satunya Indonesia, mengapa demikian.

Tidak asing bagi kita beserta yang namanya alang-alang (Imperata cylindrica) yang menjadi musuh bagi banyak petani. Tidak asing maupun beserta keresahan Taman Nasional Baluran beserta akasia berdasarkan mesir (Acacia nilotica), begitu maupun beserta pulau Timor beserta kabesak (Acacia leucophloea) atau minjangan (Chromolaena odorata). Semua tumbuhan di atas menjadi momok yang menakutkan. Ketakutan bukan berdasarkan pohonnya, akan tetapi berdasarkan sifat yakni invasif.

Karakter tumbuhan yang invasif inilah yang membentuk para petani & peternak ketakutan luar biasa. Sifat invasif ini maupun didukung kemampuannya buat mencekik & membunuh tumbuhan lain melalui mekanisme alelopati. Alelopati diartika kemampuan organisme memroduksi & mengeluarkan suatu senyawa alelokimia ke lingkungan. Senyawa alelokimia akan memengaruhi perkembangan & pertumbuhan organisme lain di sekitarnya. Alelopati dapat beserta gampang dijumpai pada alang-alang. Seperti terlihat, waktu semua lahan tertutup ilalang dapat dipastikan nir ada tumbuhan yang hidup ditengah-tengahnya.

Australi atau negara-negara yang mengandalkan lahan sebagai area pertanian atau peternakan sangat was-was beserta 2 sifat tumbuhan ini. Mungkin apabila tumbuhan tadi secara ekonomis akan membagikan keuntangan, akan tetapi ternyata nilai ekonomisnya sangat mungil dibanding dampak jelek yang dihasilkan.

Taman Nasional Baluran, terancam beserta tumbuhan akasia atau kabesak. Dahulu tumbuhan ini didatangkan buat memagari berdasarkan kebakaran hutan. Kabesak sangat tahan beserta kebakaran, namun secara ekologi tumbuhan ini cepat sekali perkembang biakannya & sifatnya yang invasif. Binatang liar sepertinya enggan memakan dedaunannya, mungkin di Afrika hanya jerapah yang memakannya.

Di tempat pulau Timor maupun banyak dijumpai tumbuhan kabesak ini. Di tanah yang tandus, kering, berdebu tumbuhan ini masih nampak kokoh berdiri & menghijau. Tak ada yang meyentuh tumbuhan ini, selain berduri maupun nir mempunyai nilai ekonomis. Tumbuhan ini tumbuh liar & biasnya banyak ditemukan dilahan-lahan yang nir terurus. Berbicara ilalang, hampir sepanjang pulau Timor penuh maupun beserta gulma pertanian ini.

Mungkin beserta hanya satu atau dua biji tumbuhan invasif yang melekat di pakaian dapat menjadi awal malapetaka disuatu wilayah yang baru. Sebut saja Rawa Pening yang waktu ini penuh beserta gulma eceng gondok (Eichornia crassipes). Flora ini awalnya tanaman hias di kolam, akan tetapi begitu lepas ke perairan bebas pertumbuhannya dapat nir dapat dikendalikan seperti waktu ini. Ancaman ekologi pertanian inilah yang mengkawatirkan negara beserta pertanian & peternakan, mereka takut lahannya diserobot tumbuhan invasif.

Mungkin bagi kita yang tinggal jauh berdasarkan tempat-tempat tadi di atas & hanya dapat menikmati lewat foto atau video akan merasa takjub. Mata fotografer yang membidikan lensanya, tentu saja akan mengambil sudut pandang yang menarik tanpa melihat perseteruan ekologisnya. Inilah mengapa beberapa negara takut tamu asing yakni gulma. Gulma bak senjata biologis yang mampu menguasai lahan-lahan kosong & fertile, yang sebenarnya banyak dihalaman tempat tinggal kita akan tetapi menjadi momok bagi beberapa negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Uangmaya.com