Breaking News

Minggu, 25 Maret 2018

Transportasi di Sel Tumbuhan serta Sel Hewan

Dalam kehidupan sehari-hari bisa kita lihat tumbuhan yang bisa tumbuh tinggi & besar bahkan bisa hidup selama puluhan tahun dibandingkan dengan hewan yang memiliki homogen-homogen umur lebih pendek. Apakah yang mempengaruhi hal tadi? Hal ini berafiliasi dengan sel & kinerjanya.

Sel merupakan tingkatan struktural terkecil penyusun makhluk hidup yang memiliki seluruh sifat kehidupan, misalnya reproduksi, pertumbuhan & perkembangan, pemanfaatan energi, respons terhadap lingkungan, & sebagainya. Dalam sel hidup terdapat senyawa kimiawi hasil dari aktivitas sel yang diklaim biomolekul. Pada sel hewan lebih banyak terdapat protein dibanding sel tumbuhan yang lebih banyak mengandung karbohidrat. Senyawa dasar secara sedikit demi sedikit diubah menjadi senyawa yang lebih kompleks, baik fungsi maupun strukturnya, biasa diklaim makromolekul. Makromolekul merupakan molekul besar yang terdiri atas banyak atom atau blok penyusun. Sebagian besar makromolekul berupa polimer atau suatu molekul panjang yang terdiri atas banyak blok penyusun identik & dihubungkan dengan ikatan-ikatan kovalen. Blok penyusun dari suatu polimer ialah molekul mini yang diklaim monomer. Monomer-monomer dihubungkan melalui suatu reaksi kondensasi atau dehidrasi sebagai akibatnya dua molekul bisa berikatan secara kovalen melalui divestasi satu molekul air. Sel hidup memiliki empat makromolekul, yaitu koarbohidrat, lipid, protein, & asam nukleat.


Karbohidrat ialah polihidroksi aldehida (golongan aldosa) atau polihidroksi keton  (golongan ketosa) dengan rumus molekul (CH2O)n. Karbohidrat berfungsi sebagai bahan penyusun struktur sel & sumber energi. Berdasarkan jumlah monomer yang menyusun polimer, karbohidrat digolongkan menjadi monosakarida, disakarida, & polisakarida.

Lipid berfungsi sebagai komponen struktural membran sel, cadangan bahan bakar, lapisan pelindung, komponen vitamin, & komponen hormon. Lipid bersifat hidrofobik, yaitu sedikit atau tidak memiliki afinitas (ketertarikan) terhadap air.

Protein merupakan komponen penyusun sel yang meliputi sekitar 50% dari bobot kering sel tadi. Protein berfungsi sebagai dukungan struktural, penyimpanan, pergerakan, transpor substansi tertentu, pengiriman sinyal, enzim, & pertahanan buat melawan substansi asing. Molekul protein sangat majemuk, baik struktur maupun fungsinya. Meski majemuk, semua jenis protein merupakan polimer yang dibangun dari kumpulan 20 jenis asam amino, yaitu glisin, alanin, valin, leusin, isoleusin, metionin, fenilalanin, triptofan, prolin, serin, treonin, sistein, tirosin, asparagin, glutamin, asam aspartat, asam glutamat, lisin, arginin, & histidin. Asam amino ialah molekul organik yang memiliki gugus karboksil & amino. Polimer asam amino diklaim pula polipeptida.

Asam nukleat berfungsi sebagai tempat penyimpanan sifat individu yang diwariskan, penyimpanan energi, & koenzim. Asam nukleat merupakan polinukleotida, yaitu suatu polimer yang satuan penyusunnya ialah nukleotida. Nukleotida terdiri atas tiga komponen, yaitu basa nitrogen, pentosa (gula berkarbon lima), & gugus fosfat. Berdasarkan jenis nukleotidanya, asam nukleat dibedakan menjadi dua, yaitu asam ribonukleat (RNA) & asam deoksiribonukleat (DNA). Molekul DNA & RNA memiliki beberapa perbedaan pokok. DNA hanya memiliki satu macam jenis, sedangkan RNA memiliki tiga macam jenis, yaitu m-RNA (messengerRNA sebagai pembawa pesan), r-RNA (ribosomalRNA yang terdapat dalam ribosom), & t-RNA (transferRNA buat membawa asam amino).

Dalam sel sendiri masih terdapat organ-organ atau biasa diklaim organel sel. Pada sel hewan & sel tumbuhan terdapat beberapa perbedaan. Pada sel tumbuhan terdapat dinding sel yang berfungsi buat melindungi sel & terdapat pada bagian terluar sel. Pada sel hewan tidak terdapat dinding sel melainkan membran sel pada lapisan terluar sel yang pula terdapat pada sel tumbuhan. Membran sel bersifat semipermeabel sebagai akibatnya hanya bisa dilalui oleh ion, molekul, & senyawa-senyawa tertentu. Selain itu terdapat beberapa perbedaan misalnya sentriol yang hanya terdapat pada sel hewan & vakuola pada sel tumbuhan lebih besar daripada sel hewan. Salah satu ciri sel hidup ialah melakukan metabolisme yang tentu memerlukan & memproduksi senyawa kimia. Pada akhirnya akan terjadi mekanisme transpor zat yang melewati membran sel yang bersifat selektif permeabel atau semipermeabel. Transpor zat yang terjadi dalam sel dibedakan menjadi dua, transpor pasif & transpor aktif. Transpor pasif yaitu transpor ion, molekul, senyawa dari luar atau dalam sel tanpa memerlukan energi. Transpor aktif yaitu transpor ion, molekul, senyawa dari luar atau dalam sel yang memerlukan energi karena melawan gradien konsentrasi.

Pada tumbuhan tingkat rendah (misal ganggang) penyerapan air & zat hara dilakukan melalui seluruh tubuh. Pada tumbuhan tingkat tinggi (misal spermatophyta) proses pengangkutan dilakukan oleh floem & xylem. Mekanisme transpor bertujuan buat memasukkan gula, asam amino, & nutrien lain yang diharapkan sel, memasukkan oksigen & mengeluarkan karbon dioksida pada proses respirasi sel. Mengatur konsentrasi ion anorganik dalam sel, membuang residu metabolisme yang bersifat racun, menjaga kestabilan pH, menjaga konsentrasi suatu zat buat mendukung kerja enzim. Proses pengangkutan secara pasif dilakukan melalui difusi, osmosis, & imbibisi, & difusi terfasilitasi atau difusi terfasilitasi.

Imbibisi bisa dicermati saat biji kacang hijau berkecambah saat direndam pada air selama beberapa jam. Hal ini terjadi karena penyusupan atau peresapan air ke dalam ruangan antar dinding sel yang menyebabkan dinding sel melebar. Difusi ialah motilitas menyebarnya molekul dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Pada difusi terfasilitasi, transpor senyawa dibantu dengan protein yang membentuk saluran protein & melalui protein transpor. Banyak molekul polar yang berukuran besar & ion yang tertahan oleh membran ganda fosfolipid, namun bisa berdifusi melalui saluran yang dibuat oleh protein, hal ini diklaim transpor yang dipermudah oleh saluran protein. Protein integral biasa membentuk saluran yang bisa membuka & menutup karena rangsangan listrik atau kimiawi. Proses difusi terfasilitasi selanjutnya dibantu oleh protein transpor. Protein transpor memiliki sifat misalnya enzim, yaitu bersifat spesifik terhadap zat & tempat pengikatan molekul yang diangkutnya, sebagai akibatnya bisa berubah bentuk saat mengikat & melepas molekul yang dibawanya.

 Osmosis ialah kebalikan dari difusi, yaitu perpindahan air dari kawasan konsentrasi rendah (hipotonik) ke konsentrasi tinggi (hipertonik) melalui membran semipermeabel. Membran semipermeabel hanya bisa dilalui oleh air & zat tertentu yang larut didalamnya. Suatu larutan memiliki potensial osmosis, yaitu tekanan osmosis pada larutan. Tekanan osmosis ialah tekanan yang diharapkan buat menahan pergerakan pelarut (air) melalui membran selektif permeabel. Dalam osmosis pada sel berdinding ada beberapa keadaan. Plasmolisis ialah keadaan dimana sel tumbuhan, alga, & atau fungi berada pada larutan yang hipertonik, air pada dalam sel keluar sebagai akibatnya sel mengerut & membran plasma akan tertarik menjauhi dinding sel. Aika sel tumbuhan berada pada larutan yang isotonik, maka akan menjadi lembek (flaksid/ flaccid). Apabila sel berada pada larutan yang hipotonik, kesamaan air masuk ke dalam sel akan diimbangi oleh dinding sel (sehabis mencapai ukuran tertentu dinding sel akan menaruh terkanan kembalipada sel) sebagai akibatnya sel akan membesar pada batas normal, diklaim turgid. Dalam sel yang tidak berdinding, misalnya pada sel hewan, seandainya berada pada larutan yang isotonik, volume sel hewan akan stabil (normal). Misalnya sel eritrosit akan memiliki bentuk tetap seandainya dimasukkan ke dalam larutan garam 1%. Aika sel hewan berada pada larutan hipertonik (larutan pekat), air pada dalam sel akan keluar dari dalam sel sebagai akibatnya sel mengerut (krenasi). Namun, seandainya sel hewan barada pada larutan hipotonik, air dari luar sel akan masuk ke dalam sel yang menyebabkan sel membengkak bahkan pecah (lisis), contohnya eritrosit akan mengalami hemolisis seandainya dimasukkan ke dalam air (akuades). Organisme bersel satu memiliki adaptasi khusus buat bisa hidup pada lingkungan yang hipertonik maupun hipotonik dengan osmoregulator (kontrol keseimbangan air).

Transportasi aktif meliputi pompa ion, kotranspor, & endositosis-eksositosis. Pompa ion ialah trasnpor ion melalui membran dengan cara melakukan pertukaran ion dari dalam sel dengan ion pada luar sel. Transportasi dilakukan oleh protein transpor yang tertanam pada membran plasma menggunakan sumber energi berupa ATP. Adenosin trifosfat bisa mentransfer gugus fosfat terminalnya ke protein transpor sebagai akibatnya terjadi perubahan konformasi pada protein transpor. 

Perubahan konformasi tadi membuat ion bisa diikat atau dilepaskan. Setiap membran plasma memiliki potensial membran, yaitu energi potensial listrik yang muncul implikasi distribusi anion & kation yang tidak selaras pada sisi membran yang antagonis. Sitoplasma bermuatan negatif, sedangkan fluida ekstraseluler bermuatan positif. Contoh pompa ion ialah pompa ion natrium-kalium pada sel hewan. Sel hewan memiliki konsentrasi ion K+ lebih tinggi & ion Na+ jauh lebih rendah dibandingkan dengan lingkungannya. Membran sel hewan mempertahankan konsentrasi ion melawan gradien konsentrasi dengan memompa ion Na+ ke luar & ion K+ masuk ke dalam sel. Kontranspor ialah transpor aktif dari zat tertentu yang bisa menginisiasi transpor zat terlarut lainnya. Kontranspor dilakukan oleh dua protein transpor dengan energi berupa ATP. 

Contoh kontranspor ialah pompa proton yang menggerakkan transpor sukrosa pada sel tumbuhan. Proton (H+) keluar dari sel melalui suatu protein transpor pada membran, kemudian ion H+ yang keluar tadi membawa sukrosa buat memasuki sel melalui protein transpor lainnya. Mekanisme ini memiliki kegunaan buat memindahkan sukrosa hasil fotosintesis ke sel berkas pembuluh daun & selanjutnya didistribusikan ke organ nonfotosintetik melalui jaringan vaskuler tumbuhan. 

Eksositosis-Endositosis ialah transpor partikel & molekul besar melalui pelipatan membran plasma atau pembentukan vesikula. Pada eksositosis, vesikula yang berisi makromolekul dari badan Golgi dipindahkan oleh sitoskeleton buat bergabung dengan membran plasma, kemudian vesikula menumpahkan isinya keluar sel. Pada Endositosis, makromolekul dikelilingi oleh membran plasma yang melipat membentuk vesikula, kemudian vesikula tadi masuk ke dalam sel. Endositosis pada sel hewan ialah fagositosis, pinositosis, endositosis yang diperantarai reseptor. Fagositosis terjadi saat sel menelan partikel padat (masakan) dengan pseudopodia, selanjutnya partikel dibungkus pada dalam kantong membran yang besar (vakuola). Pinositosis terjadi saat fluida ekstraseluler masuk ke dalam lipatan membran terjadi saat fluida ekstraseluler masuk ke dalam lipatan membran plasma yang membentuk vesikula mini. 

Endositosis yang diperantarai reseptor terjadi saat fluida ekstraseluler terikat pada reseptor spesifik yang berkumpul pada lubang yang dilapisi protein pada membran plasma, kemudian membentuk vesikula. Transpor ini bertujuan buat memperoleh substansi spesifik dalam jumlah besar, contohnya penyerapan kolesterol buat protesis membran & prekusor protesis steroid lainnya.

Berdasarkan teori pada atas, bisa disimpulkan bahwa transportasi pada sel tumbuhan & sel hewan memiliki beberapa perbedaan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Makhluk hidup tentu melakukan metabolisme. Hasil metabolisme tadi ialah energi yang membantu kita buat berpikir, melakukan sesuatu, atau bahkan dipakai dalam pertumbuhan. Untuk melakukan metabolisme tentu diharapkan senyawa-senyawa hasil dari adonan senyawa-senyawa sederhana. Proses digabungkannya senyawa-senyawa tadi terjadi pada dalam sel oleh organel-organel dalam sel. Senyawa hasil itu akan dipakai dalam aktivitas yang dilakukan makhluk hidup, buat berkiprah, berpikir, maupun pertumbuhan. Dalam membuat senyawa yang rumit tentu diharapkan bahan atau senyawa yang lebih sederhana. Dalam penyediaan senyawa yang lebih sederhana diharapkan suatu mekanisme transportasi antar membran sel. Berdasarkan teori pada atas, transportasi sel dilakukan dari aneka macam macam cara. Hasil metabolisme bisa terlihat  galat satu contohnya dari pertumbuhan suatu makhluk hidup.

Hal yang seringkali kita lihat ialah tumbuhan terutama pepohonan besar bisa hidup hingga puluhan tahun. Pada hewan ataupun insan homogen-homogen memiliki umur lebih pendek dari pepohonan. Atau tumbuhan memerlukan waktu yang lama buat tumbuh hingga bisa memproduksi butir. Hal ini berafiliasi pada hasil metabolisme. Dengan kata lain, metabolisme yang lambat akan membuat pertumbuhan lambat pula. Untuk terjadi metabolisme tentu memerlukan senyawa-senyawa sederhana. Bagaikan ketika kita ingin mengolah kita perlu menentukan masakan yang akan kita buat & menyediakan bahannya. Untuk menyediakan bahan diharapkan suatu mekanisme transpor. Apabila metabolisme pada tumbuhan tergolong lambat, maka bisa diambil konklusi seandainya mekanisme transpor pada sel tumbuhan lambat.

Kita sebagai insan tentu perlu makan. Makanan yang kita makan akan menaruh kita energi buat beraktivitas. Hewan pun perlu makan. Pada rantai masakan homogen-homogen tumbuhan menjadi penghasil atau penyedia masakan. Hewan herbifora akan memakan tumbuhan tadi & selanjutnya akan dimangsa oleh hewan karnivora. Hal ini akan membentuk jaring-jaring masakan. Tapi bila tumbuhan memiliki mekanisme transpor yang lebih lambat dibanding dengan hewan, apakah tumbuhan bisa habis dimakan oleh hewan? Memang benar bila homogen-homogen pertumbuhan tumbuhan tergolong lambat implikasi mekanisme transpor yang lambat. 

Namun tumbuhan membuat masakan selama terdapat cahaya buat melakukan fotosintesis. Berbeda dengan hewan yang bisa kenyang, tumbuhan terus memproduksi masakan yang nantinya sisanya akan disimpan dalam vakuola dalam sel. Hal ini yang menyebabkan tumbuhan memiliki vakuola lebih besar dibanding hewan. Ditambah tumbuhan tidak melakukan motilitas layaknya hewan. Tentu energi yang terpakai tidak sebesar energi yang terpakai pada hewan. Ditambah tidak semua tumbuhan ialah tumbuhan besar. Ada tumbuhan layaknya rerumputan yang tergolong mini sebagai akibatnya lebih cepat tumbuh dibanding pepohonan besar.

Manakah yang lebih cepat? Antara kita yang berlari pada jalanan yang bersih dari benda apapun atau jalanan dimana kita harus melompati pagar atau tembok? Tentu lebih cepat bila kita berlari pada jalanan tanpa halangan. Hal ini hampir sama dengan mekanisme transpor pada sel tumbuhan. Seperti yang kita ketahui, sel tumbuhan memiliki dinding sel yang menutupi membran plasma serta organel sel pada dalamnya. Akibatnya senyawa yang ingin memasuki sel tumbuhan harus melewati dinding sel kemudian melewati membran plasma yang bersifat semipermeabel. Pada sel hewan, senyawa yang ingin masuk hanya melewati membran plasma.

Tekanan pula merupakan galat satu faktor yang mempengaruhi laju transportasi pada sel. Berdasarkan ukurannya, sel tumbuhan memilki sel yang lebih besar dibandingkan dengan sel hewan yang diakibatkan oleh lebih besarnya vakuola pada tumbuhan dibanding pada sel hewan. Seperti mengalirnya air dalam selang. Ketika kita menggunakan selang tanpa menutupi lubangnya maka air akan mengalir dengan biasa. tapi bila kita menutup sedikit lubang pada selang maka air akan menyemprot ke depan dengan deras. Hal yang hampir sama terjadi pada mekanisme transpor senyawa dalam sel. Tekanan pada sel hewan lebih besar dikarenakan ukurannya yang lebih mini dibanding pada sel tumbuhan yang mendorong senyawa buat berkiprah lebih cepat pula. Tekanan tergolong memiliki peranan besar dalam transportasi senyawa.

Salah satu kabar mengenai tumbuhan ialah tumbuhan memiliki mekanisme transportasi senyawa ke atas. Sedangkan hewan memiliki mekanisme transpor senyawa ke aneka macam arah. Dalam hewan, pembuluh darah menyebar ke seluruh tubuhnya & berfungsi menyalurkan energi atau oksigen. Tumbuhan tidak memiliki pembuluh darah, sebagai gantinya tumbuhan menggunakan jaringan pengangkut, yaitu xylem & floem. Keduanya menyebar dalam seluruh tubuh tumbuhan sebagai pengganti pembuluh darah. Tumbuhan menerima zat hara dari tanah & diserap oleh akar. Floem berfungsi buat mengedarkan hasil fotosintesis pada daun ke seluruh tubuh tumbuhan. Xylem berfungsi buat mengedarkan air yang merupakan galat satu bahan buat fotosintesis. 

Air tentu sangat diharapkan karena menjadi bahan dalam fotosintesis. Dalam transportasi terjadi evaporasi air melalui celah bernama stomata. Sebagai gantinya tekanan akan mendorong air buat menggantikan celah yang dibuat oleh air yang telah terevaporasi. Dalam evaporasi dibantu oleh energi matahari yang cukup kuat buat mendorong air buat naik ke daun. Dengan kata lain tumbuhan melakukan transportasi dari akar secara vertikal ke pucuk daun. Ditambah oleh beberapa kendala misalnya gaya gravitasi yang menarik benda ke inti bumi. Transportasi air ke atas tentu memerlukan tenaga lebih karena harus melawan gaya gravitasi. Hal ini memperlambat suatu sel buat melakukan metabolisme karena bahannya tak kunjung tiba. 

Seperti halnya seandainya kita ingin mengolah tetapi tidak ada bahannya, maka kita tidak bisa mengolah. Berbeda dengan sel hewan. Tumbuhan membuat masakan secara terus menerus selama bahannya tersedia. Hewan memerlukan masakan namun mereka akan berhenti makan sejenak ketika mereka kenyang. Hal ini dikarenakan hewan harus mencerna masakan mereka yang akhirnya menjadi energi buat mereka melakukan aktivitas. Setelah masakan dicerna tentu energi akan disalurkan. Caranya melalui pembuluh darah yang menyebar ke seluruh tubuh hewan. Berbeda dengan tumbuhan, sumber energi hasil masakan pada hewan berasal dari organ pada dalam perut atau bisa dikatakan berada pada tengah tubuh hewan. Berasal dari sana energi didistribusikan ke aneka macam arah, atas, bawah, kanan, atau kiri.

Singkat kata terbukti bila transportasi senyawa pada tumbuhan lebih lambat dibanding transportasi senyawa pada hewan. Beberapa faktor yang mempengaruhi ialah struktur morfologi serta fisiologi suatu sel. Dinding sel menghambat lajur senyawa. Ukuran sel mempengaruhi tekanan dalam mendorong senyawa buat berkiprah dalam sel. Arah geraknya senyawa pula mempengaruhi dimana pada sel tumbuhan arahnya antagonis dengan gravitasi sedangkan pada hewan tidak semuanya antagonis dengan gravitasi. Ditambah dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali melihat tumbuhan yang tumbuh dengan lambat. Hal ini dikarenakan oleh hasil metabolisme yang lambat pula.

Sumber                :

https://sciencebooth.com/2014/01/29/transportasi-zat-dalam-sel/amp/

www.academia.edu/17950664/RESPIRASI_DAN_PENYERAPAN_SERTA_TRANSPORTASI_PADA_TUMBUHAN

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK21525/

byjus.com/biology/transportation-in-plants-or-trees

Irnaningtyas.2017.Biologi buat SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Erlangga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Uangmaya.com