Breaking News

Kamis, 29 Maret 2018

Tumbuhan Lebih Panjang Umur dari Hewan

Pernahkah terpikir dalam benak kalian, bahwa sebenarnya sel flora atau sel hewankah yang berumur lebih tua. Sebenarnya jawabannya ada di dalam sel itu sendiri. Dan saya berpikir bahwa sel flora hidup lebih lama dari sel fauna. 

Kok bisa???. Sebenarnya banyak sekali flora yang telah berumur ribuan tahun. Sebagai contohnya ialah Pinus longaeva yang telah berumur 5000 tahun. Dan juga tidak sedikit pohon-pohon yang diameter batangnya bisa melebihi 10 meter. Diameter yang sangat akbar itu tentunya diadaptasi dengan umur dari tanaman tersebut. Mengapa?, karena hal ini dipengaruhi sang lingkar tahun flora. Semakin tua flora itu, maka lingkar tahunnya semakin banyak, & diameter pohon akan semakin panjang.


Bersumber dari liputan 6, Hewan-fauna berumur tidak lebih dari 1000 tahun. Paus tertua hanya berumur lebih kurang 400 tahun. Selain itu ada juga seekor kerang yang bernama Ming, yang mampu mencapai umur 507 tahun, & saat ini merupakan fauna tertua di dunia. Di samping itu, ada juga yang berjangka hidup sangat pendek. Dikutip dari science.idntimes.com, Seekor lalat hanya berusia 4 minggu, sedangkan capung hanya berumur 4-6 bulan, dibalik itu, semut penjantan hanya berusia 2 minggu. Dan juga yang terakhir, ada yang hanya berumur 24 jam, alias hanya satu hari, bahkan kurang. Ia ialah lalat capung yang berani beda.

Lalu kenapa Tumbuhan bisa hidup mencapai 5000 tahun sedangkan fauna hanya aporisma berumur 507 tahun, bahkan ada yang hanya hidup 24 jam. Ini penjelasannya.

Pertama-tama, sel itu merupakan bagian terkecil dari segi struktural & fungsional dalam sebuah benda mati ataupun mahluk hidup. Kumpulan sel yang memiliki fungsi yang sama bersatu menjadi jaringan, formasi jaringan-jaringan itu dikenal sebagai sebagai organ, formasi organ-organ dikenal sebagai sebagai sistem organ, & sekumpulan sistem organ akan membuat organisme.

Penemuan sel tidak mampu dipisahkan dengan penemuan mikroskop. Berdasarkan sumber zona siswa.com, mikroskop ditemukan sang A. Leeuwenhoek. Tidak lama kemudian, seorang ilmuan inggris kepada pertengahan abad ke 18, Robert Hooke, menjadi orang pertama yang melihat rongga-rongga di sel gabus milik flora. Dia menamai ruang kecil ini Cella atau sel. Penemuan sang Robert Hooke ini, memancing para ilmuan lain buat mengamati sel ini.

Schleiden (1804-1881) & T. Schwann (1810-1882), ikut tertarik dengan penemuan ini. Schleiden meneliti flora, sedangkan Schwaan meneliti fauna. Dan rupa-rupanya, mereka menemukan bahwa sel ialah struktur terkecil dari flora & fauna. Maka, mereka menyimpulkan bahwa struktur terecil fauna & flora ialah sel.

Robert Brown, kepada tahun 1831, dia mengamati struktur sel kepada jaringan tanaman anggrek, & dia melihat ada benda kecil yang terapung di sel. 'itu' diberi nama inti sel ( Nukleus ). Dan selesainya dianalisa lebih jauh, rupanya inti sel itu selalu ada di dalam sel hidup, karena dia bertugas utuk mengatur segala sesuatu yang terjadi di dalam sel. Tanpa 'itu', maka sel tidak akan hidup

Felix Durjadin & Johannes Purkinye, kepada tahun 1835, selesainya mengamati struktur sel, Felix Durjadin & Johannes Purkinye menemukan adanya  suatu cairan di dalam sel, dsn kemudian cairan terebut diberi nama protoplasma.

Max Schultze (1825-1874), Dia menegaskan bahwa protoplasma ialah keberadaan dasar-dasar fisik kehidupan. Protoplasma merupakan cairan kawasan terjadinya proses kehidupan. Berdasarkan pendapat beberapa ahli hidup tersebut, akhirnya mereka melahirkan beberapa teori teori sel antara lain:

sel merupakan unit struktural makhluk hidup
sel merupakan unit fungsional makhluk hidup
sel merupakan unit reproduksi makhluk hidup
sel merupakan unit hereditas.

Daripada kita hanya terngiang-ngiang dengan sejarah masa lalu, mari kita masuk ke pembahasan tentang materi kita.

Bersumber kepada Wikipedia.org, Sel Tumbuhan ialah sel yang berada di flora. Ada beberapa hal yang membedakan sel flora & sel-sel lainnya, yaitu:

Sel Tumbuhan memiliki vakuola yang akbar (dilingkupi membran, dikenal sebagai tonoplas, yang menjaga turgor sel & mengontrol pergerakan molekul di antara sitosol & getah.
Dinding sel flora tersusun atas selulosa & protein, dalam banyak perkara lignin, & disimpan sang protoplasma di luar membran sel. Hal ini berbeda dengan dinding sel fungi, yang dibuat dari kitin, & sel prokariotik, yang dibuat dari peptidoglikan.
Memiliki plasmodesmata, merupakan pori-pori penghubung kepada dinding sel flora yang memungkinkan setiap sel flora berkomunikasi dengan sel berdekatan lainnya. Hal ini berbeda dengan sel Fungi yang memakai jaringan Hifa buat berkomunikasi.
Plastida, terutama kloroplas yang hanya dimiliki sang sel flora. Mengandung klorofil, sebuah pigmen yang memberikan warna hijau bagi flora & juga memungkinkan terjadinya fotosintesis kepada bagian daun.
Kelompok flora tidak memiliki flagella (termasuk konifer & flora berbunga) juga tidak memiliki sentriol yang hanya terdapat di sel fauna.

Dari kepada kepanjangan eksklusif aja ke beberapa bagian-bagian sel flora.

Dinding sel

Beberapa hal yang menyebabkan sel flora berumur lebih lama dari sel fauna, salah satunya ialah sel flora memiliki perlindungan tambahan sang dinding sel. Dinding sel ini memang menyebabkan sel flora tidak mampu berkiprah & tidak mampu berkembang bebas seperti sel fauna. Namun, dibalik sisi negatif sempurna ada sisi positifnya, dinding sel ini mampu memberikan dukungan, perlindungan & filter bagi sel flora itu sendiri baik dari dalam maupun dari luar. Dan juga dinding sel ini mampu mencegah air yang hiperbola masuk ke dalam sel, supaya selnya gak pecah.

Dinding sel kepada flora ini  tersusun atas polimer karbohidrat pektin, selulosa, hemiselulosa, & lignin sebagai penyusun vital dari dinding sel flora. Fungsi dinding sel ialah buat memberi bentuk kepada sel flora, melindungi bagian dalam sel flora dari pengaruh lingkungan & menjaga sel flora supaya tidak pecah implikasi masuknya air secara hiperbola.

Vakuola

Hal lainnya yang menyebabkan sel flora berumur lebih lama dari sel fauna ialah karena vakuola milik sel flora lebih akbar dari sel fauna yang vakuolanya kecil atau mungkin tidak ada.

Vakuola merupakan sebuah ruang dalam sel yang berisi cairan, yang berupa rongga yang diselaputi membran (tonoplas). Cairan ini ialah cairan yang berisi air & di dalamnya terlarut zat seperti enzim, lipid, alkaloid, garam mineral, asam, & basa, & zat-zat alinnya. Selain itu, Vakuola juga berisi asam organik, asam amino, glukosa (zat gula), & gas. Vakuola itu mampu ditemukan kepada semua sel flora namun tidak selalu ada kepada sel fauna , kecuali kepada fauna uniseluler tingkat rendah & teman-temannya.

Vakuola mampu dibagi menjadi 2 jenis, yaitu vakuola kontraktil & juga vakuola nonkontraktil (vakuola kuliner). Vakuola kontraktil berfungsi sebagai osmoregulator yaitu pengatur nilai osmotik sel atau ekskresi kepada sel-sel flora. Vakuola nonkontraktil berfungsi buat mencerna/mengkonsumsi kuliner & mengedarkan output kuliner kepada sel flora.

Salah satu fungsi dari vakuola ialah buat menyimpan cadangan kuliner kepada sel-sel flora. Maka, flora memiliki cadangan kuliner lebih banyak dari sel fauna, yang menyebabkan flora lebih siap dalam menghadapi pelawan dibandingkan dengan sel fauna.

Plastida

Plastida ialah organel sitoplasma yang beredar kepada sel flora & terlihat sangat jelas di bawah mikroskop sederhana maupun mikroskop modern. Plastida itu sangat bervariasi ukuran & bentuknya, kepada sel-sel flora yang memiliki bunga/berbunga, biasanya berbentuk piringan-piringan kecil yang bikonveks. Meskipun macam-macam plastida biasanya dihubungkan dengan fungsi-fungsi fisiologis yang selalu tetap, namun macam-macam tersebut kini diklasifikan menjadi 3 sesuai warnanya, yaitu :

Leukoplast (tidak berwarna) : biasanya banyak terdapat di dalam sel-sel yang tidak atau jarang sekali terkena cahaya mentari, misalkan kepada jaringan yang terletak sangat dalam kepada bagian-bagian flora baik di atas maupun di dalam tanah. Leukoplast berfungsi sebagai sebagai pusat sintesis & kawasan menyimpan kuliner cadangan seperti pati.

Kloroplast yang mengandung klorofil ialah suatu gabungan pigmen yang memberi warna hijau kepada flora. Berfungsi buat menangkap tenaga cahaya mentari yang diperlukan buat proses fotosintesis.

Kromoplast ialah sesuatu yang mengandung pigmen-pigmen lain yang menyebabkan timbulnya warna merah, jingga & kuning kepada bagian-bagian tertentu dalam flora. Fungsinya masih agak belum jelas, tetapi berafiliasi dengan masak, tidak masak suatu buah dari mulai berwarna hijau sampai dengan berwarna merah berafiliasi dengan penurunan & peningkatan jumlah kromoplast.

Membran sel

Membran sel atau membran plasma merupakan bagian sel yang terletak paling luar & yang membatasi isi sel & sekitarnya. Membran plasma tersusun dari 2 lapisan yang terdiri dari fosfolipid & protein/lipoprotein. Membran plasma bersifat semipermeabel atau selektif permeabel yang berfungsi buat mengatur pergerakan-pergerakan materi atau transportasi zat-zat terlarut masuk & keluar dari suatu sel. Membran plasma selalu dimiliki sang sel flora & sel fauna tanpa terkecuali.

Nukleus

Nukleus ialah inti atau pusat seluruh perkerjaan dari suatu sel. Semua sel hidup sempurna memiliki Nukleus. Fungsi primer nukleus ialah sebagai pusat atau 'otak' yang mengontrol seluruh aktivitas kepada suatu sel & mengandung bahan yang menurunkan sifat turun-temurun suatu organisme (DNA), baik sel fauna maupun sel flora. Nukleus tersusun atas tiga komponen yaitu :

Nukleoulus (anak inti) ialah organel yang berfungsi buat mensintesis aneka macam macam molekul RNA (asam ribonukleat) yang dipergunakan buat perakitan ribosom.
Nukleoplasma (cairan inti) merupakan suatu cairan yang tersusun dari protein.
Butiran kromatin yang terdapat kepada nukleoplasma, yang mampu menebal menjadi struktur yang berbentuk seperti benang yaitu kromosom yang mengandung DNA (asam deoksiribonukleat) yang berfungsi menyalurkan info genetika melalui sintetis protein.
Sitoplasma

Sitoplasma ialah bagian non-nukleus dari protoplasma. Pada sitoplasma terkandung sitoskeleton, & juga aneka macam organel & juga vesikuli. Sitosol yang berupa cairan kawasan dimana organel melayang di dalamnya. Sitosol selalu mengisi ruang-ruang sel yang kosong & tidak ditempati organel & vesikula & merupakan kawasan dimana banyak reaksi biokimiawi terjadi dan perantara buat transfer bahan dari luar sel ke dalam sel, yaitu menuju organel atau inti sel.

Di dalam sitoplasma terdapat organel-organel sel berikut ini:

Mitokondria, yang berfungsi dalam proses oksidasi & mualisasi sel.
Ribosom, sebagai kawasan dimana berlangsungnya sintesis protein.
Retikulum endoplasma, yang mampu dibedakan menjadi 2 :
RE Kasar, yang merupakan kawasan melekatnya ribosom.
RE Halus.
Badan Golgi, berperan secara aktif dalam sekresi sel maupun sintesis polisakarida.
Lisosom yang berperan aktif dalam regenerasi sel

Sekarang tentang pendapat saya.

Saya lebih menentukan sel flora mampu hidup lebih lama dari sel fauna karena sel flora memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan sel fauna. Sel flora memiliki dinding sel yang mampu melindungi sel sangat kuat dari penyerangan dari luar. Hal ini terbukti dengan bentuk sel flora yang tetap karena dipaksa sang dinding sel. Berbeda dengan sel fauna yang tidak memiliki dinding sel, melainkan membrane plasma. Memang membrane plasma itu selektif permiabel, namun berdasarkan saya hal itu tetap kurang, karena terkadang sel itu mampu rusak & lebih cenderung memiliki kemungkinan buat kemasukan benda asing.

Selain dinding sel, Sel flora juga memiliki vakuola yang nisbi lebih akbar dari sel fauna yang memiliki vakuola yang kecil atau mungkin tidak ada vakuolanya. Hal ini menyebabkan flora memiliki cadangan kuliner yang lebih banyak dari sel flora, & juga buat jaga-jaga jikalau situasi di luar tidak mendukung buat mencari kuliner.

Sel induk flora juga mengalami perbaikan terhadap sel yang rusak. Sama seperti layaknya sel fauna, sel flora juga bisa beregenarasi terhadap luka fisik. Hal ini memperkuat flora dalam hal bertahan dari pemangsa. Selain itu, sel induk kepada flora juga berperan buat meng-copy DNA flora, makanya ia mampu memperbaiki sel yang rusak, karena memiliki copy-an DNA-nya flora tersebut.

Jika kita mau melihat kembali ke masa lalu, ke Zaman kapur, Zaman Jurrasic. Kalian semua sempurna berpikir bahwa itu merupakan zaman dimana reptil terbesar masih hidup, yaitu dinosaurus. Hanya beberapa orang yang menyadari tentang keberadaan ganggang hijau atau alga hijau di sana. Kita semua tahu bahwa alga merupakan nenek moyang dari kingdom plantae saat ini. Namun, apakah kalian tahu bahwa ganggang hijau sudah berada di zaman kapur dinosaurus masih bertahan sampai saat ini. Kenapa dia mampu bertahan hidup selama itu???

Kita semua tau, bahwa punahnya dinosaurus sedang menjadi perdebatan para ilmuan saat ini. Salah 2 teorinya ialah aktifitas vulkanik yang meningkat & teori tubukan asteroid raksasa di Semenanjung Yucatan. Gara-gara suhu yang panas, cahaya mentari terhalang sang debu dari asteroid & gunung vulkanik, & tekanan dorongan dari asteroid,dinosaurus-dinosaurus 'punah'. Tetapi ganggang hijau mampu selamat dari gangguan itu. Memang ada juga ada fauna-fauna yang selamat dari hantaman itu, tetapi presentasenya sangat kecil dibandingkan yang 'hilang'.

Secara logika sesuai statementdi atas, maka flora lebih 'kuat' dibandingkan dengan fauna. Kita tahu bahwa flora membutuhkan mentari buat memasak makanannya. Tetapi, ganggang hijau mampu bertahan hidup dengan keadaan debu yang menghalangi mentari ke bumi, jadi 'dia' tidak memasak makanannya. Menurut saya, ia memakai cadangan kuliner yang ada di vakuola-nya sebagai pengganti kuliner yang seharusnya dimasak sang kloroplas.

Pada fauna, beberapa dari mereka yang masih mampu hidup ialah mahluk-mahluk yang beruntung. Terutama mereka yang mampu terbang, mengapa?. Karena saat asteroid menabrak bumi, 80% permukaan bumi rata dengan tanah. Para 'burung' tersebut mampu mencari 20% bagian yang tidak musnah buat ditinggali lebih mudah dari yang tidak mampu terbang. Dan juga, saat meteorid jatuh, dinosaurus bersayap itu tidak terlalu terkena implikasi dari asteroid itu, karena tekanan paling tinggi terdapat di permukaan bumi, kawasan dinosaurus tak bersayap hidup.

Sekarang kita tidak lagi membahas tentang sesuatu yang berafiliasi dengan dinosaurus di zaman purba. Kini kita akan membahas tentang cara flora & fauna mencari kuliner. Kita semua tahu kalau flora itu bisa memasak makanannya sendiri tanpa membutuhkan mahluk lainnya ( autotrof ). Hanya berbekal air, zat hara, CO2, & cahaya mentari, flora mampu mendapatkan makanannya . Bahan-bahan ini tersedia sangat banyak di alam ini. Bahkan kaktus yang berada di padang pasir, mampu hidup dengan air yang sedikit. Berati, flora mampu 'makan' secara teratur atau dalam arti lain ia tidak bergantung dengan mahluk lain dalam masalah kuliner.

Sekarang kita berpindah haluan dari flora ke fauna. Hewan-fauna i ni dalam kondisi apapun tetap membutuhkan mahluk lainnya buat mampu makan. Ada yang memakan daging ( hewan pemakan daging ), ada yang memakan flora ( herbivora ), ada yang memakan serangga ( insektivora ), & ada juga yang memakan segala jenis kuliner ( omnivora ). Dan pastinya fauna membutuhkan kuliner dari mahluk lain, & ini lebih sulit dari memasak kuliner sendiri, karena jikalau makanannya tidak ada maka ia tidak makan, & keberadaan 'kuliner' itu tidak sempurna. Contohnya jikalau ada seekor harimau yang memakan rusa di padang, jikalau rusa itu bermigrasi ke kawasan lain, maka harimau itu harus mencari kuliner lain selain rusa, karena rusanya tidak ada. Mungkin makan zebra, atau fauna lainnya. Tidak seperti flora yang makanannya selalu dimasak, & tidak harus mencari jauh-jauh buat makanannya.

Satu lagi kelebihan flora & fauna berdasarkan saya ialah kemampuan bereproduksi masing-masing.

Pada flora, kita tahu bahwa kepada flora, ada banyak yang bereproduksi secara aseksual atau hanya membutuhkan satu jenis kelamin buat bereproduksi. Contohnya setek batang pohon manga & tunas. Pada setek kita hanya membutuhkan satu pohon manga, & menyetek satu dari cabangnya, demikian juga dengan tunas, tunas akan tumbuh dengan sendirinya dari percabangan akar. Otomatis kita hanya membutuhkan satu flora buat lebih banyak didominasi flora. Meskipun ada juga penyerbukan yang membutuhkan 2 tanaman atau lebih, contohnya penyerbukan balstar.

Sedangkan kepada fauna, lebih banyak didominasi fauna melakukan hubungan seksual buat meneruskan keturunan. Ada yang diluar tubuh induk & didalam tubuh induk. Otomatis, mereka butuh minimal 2 jenis fauna yang berbeda kelamin buat menghasilkan keturunan, yaitu penjantan & betina. Memang, ada beberapa fauna yang meneruskan keturunannya dengan cara aseksual, salah satunya ialah fragmentasi. Tapi, hanya minoritas yang melakukan fragmentasi, & lebih banyak didominasi dari kaum minoritas itu bersifat parasit, atau merugikan mahluk lain.

Jadi kesimpulannya, berdasarkan saya, flora mampu hidup lebih lama dari fauna karena beberapa faktor yaitu :

Tumbuhan memiliki dinding sel yang berfungsi sebagai pertahanan pertama
Memiliki vakuola yang akbar buat menyimpan kuliner
Sel induk flora mampu meregenerasi sel flora yang rusak dengan cara menyalin copy-an DNA flora tersebut
Berdasarkan pengalaman dari zaman kapur, flora lebih 'kuat' dari fauna
Tumbuhan gak perlu mencari kuliner, karena ia mampu memasak makanannya sendiri
Reproduksi lebih banyak didominasi jenis flora hanya membutuhkan 1 jenis kelamin

Demikian essay ini dibuat, jikalau ada kesalahan kata, atau kata yang terlalu terbelit-belit atau berputar-putar, penulis mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya. Semoga essay ini membantu pembaca memahami materi yang sedang dibahas dalam materi ini, Terima kasih atas perhatiannya telah membaca artikel ini .

Jika kamu menungguku buat menyerah, kamu akan menungguku selamanya - Naruto Uzumaki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Uangmaya.com